Yusufstudi.com - Assalamualaikum nama saya Erfransdo, saya berasal dari Sukabumi.

Saya disini akan bercerita bagaimana saya bisa lulus SBMPTN 2018 dengan berbagai usaha, doa, keoptimisan, dan juga rintangan. Jadi, monggo dibaca ya hehe. 

Cerita ini meneceritakan perjalananu bagaimana Lulus SBMPTN di Tahun Kedua 

Alhamdulillah... Alhamdulillah.... Alhamdulillah ya Allah...

Mungkin kata itu yang terus aku ucapkan karena kemurahan hati-Nya padaku hari ini. Dia Sang Maha Kuasa atas segalanya, Allah swt. Allah telah membuatku, keluargaku, dan sahabat-sahabatku bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini kecuali melihat kedua orangtuaku yang sangat bahagia mendengar kabar baik dari anaknya. Alhamdulillah hari ini aku berhasil lulus SBMPTN di salah satu Universitas negeri di Bandung, Universitas Padjajaran. Sempat gagal di tahun pertama (alias tahun kemarin), akhirnya aku bisa merasakan balasan indahnya di tahun kedua ini. Masya Allah, meskipun aku tahu bahwa ini baru awal mula perjuanganku untuk menuju ke gerbang kesuksesan dan aku berharap, aku bisa melewati masa-masaku sebagai mahasiswa nantinya, Insya Allah. 

Lika-liku atau perjuanganku yang penuh ‘batu kerikil’ untuk bisa lulus tes SBMPTN 2018 ini. Bagi kalian yang ingin membaca kisahku, check this out ! 



Berawal dari tahun 2017, tepatnya di bulan Februari. Sebagai siswa SMA yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, aku pun ikut mendaftar SNMPTN karena alhamdulillah aku masuk kuota. Kebetulan, aku masuk di 10 besar siswa dengan nilai rata-rata yang cukup baik lah. Selain SNMPTN, aku pun ikut mendaftar di SPAN-PTKIN untuk cadangan bila-bila aku tak lulus SNMPTN. Tapi aku sangat berharap sekali bisa lulus SNMPTN, dan saat itu aku belum tahu-menahu tentang SBMPTN. Saat pendaftaran SNMPTN 2017, aku memilih Unpad dan UPI. Sementara untuk SPAN-PTKIN aku memilih UIN SGD Bandung dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Saat hari pengumuman SNMPTN di bulan April, aku dan teman sekelasku bermain di rumah salah satu dari kami untuk syukuran ulang tahunnya. Pengumumannya sekitar jam 14.00. Aku baru membukanya sekitar jam 14.30 , dan hasilnya adalah layar merah tanda aku tidak lulus. Disitu aku kecewa, hatiku patah, rasanya ingin marah tapi marah kepada siapa. Tapi aku ingat suatu kata, ‘setiap orang itu punya rezekinya masing-masing’, dan aku rasa mungkin di SNMPTN bukanlah rezekiku. 

Oke hal itu tak jadi halangan buatku. Setelah pengumuman kegagalan itu, aku pun langsung mendaftarkan diri di SBMPTN. Aku memilih Unpad di pilihan pertama dan kedua, sementara IPB untuk pilihan ketiga. Masih ada waktu kurang lebih dua minggu untukku mempersiapkan SBMPTN. Ketika aku memulai mengerjakan soal-soal dari buku latihan SBMPTN yang aku beli dari guru BK-ku, aku merasa pusing dan tak menyangka soal-soalnya begitu sulit. Aku pun belajar sebisanya. Disela-sela mempersiapkan SBMPTN, hari pengumuman SPAN-PTKIN pun tiba. Saat itu aku sedang ada di dapur dan langsung membuka website pengumumannya. 

Lagi-lagi, kata ‘maaf’ menyerangku kembali. Rasanya cukup kecewa tapi tidak se-kecewa saat kegagalanku di SNMPTN. 

Aku pun terus mengerjakan soal-soal latihan SBMPTN meski dua hari aku harus menginap di suatu tempat bersama teman sekelasku untuk acara perpisahan. Hari ke hari akhirnya sampai di H-1. Karena lokasi rumahku jauh dari tempat tes, aku pun menginap di rumah teman sekelasku yang juga mengikuti SBMPTN. Aku ingat saat itu aku baru tertidur sekitar jam 12 malam dan kembali bangun jam 2 dini hari. Jam 2.30 dini hari aku dan teman-teman pun berangkat dan serahkan hasilnya pada Allah. 

Singkat cerita, kami pun selesai bertarung dengan soal-soal super sulit. Apa aku bisa mengerjakannya? Jangan ditanya, aku bisa, tapi hanya sekitar 25% wkwkwk. Untuk melepas rasa penat, kami pun berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Satu bulan kemudian, pengumuman pun tiba. Saat itu sedang bulan puasa, dan aku berharap ada keberkahan dari bulan puasa itu. 

Aku membuka pengumuman itu sebelum adzan Maghrib- di dapur. Untuk yang ke-sekian kalinya aku ‘ditampar’ oleh kata ‘maaf’ yang menyakitkan itu. Masih mending kata ‘maaf’ karena ditolak wanita, tapi kata ‘maaf’ yang satu ini sungguh membuat hati ini hancur berkeping-keping (haha lebay dikit gapapa kali ya). Tapi sejujurnya sebelum pengumuman itu tiba, aku sudah bicara dengan ibuku perihal jika pil-pahit menimpaku di pengumuman SBMPTN (mungkin kalian bisa baca di artikel ini). 

 Hari-hari pun berlalu. Aku lalui dengan penuh syukur dan harap. Aku percaya bahwa Allah akan menggantikannya dengan hal yang jauh lebih baik. Aku percaya rencana-Nya akan selalu indah pada waktunya. Mungkin Dia ingin melihatku lebih berjuang lagi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. 

Ketika hari-hari Lebaran telah berlalu, aku pun meminta izin kepada orangtuaku untuk mengambil gapyear , dan alhamdulillah mereka mendukung penuh keputusan aku. Hari itu pula tepat tanggal 6 Juli yang juga merupakan tanggal lahirku, aku meluncur ke indoma**t untuk membeli paket belajar dari sebuah bimbel online yang sudah banyak menelurkan para ‘pemenang’ yang gagal di tahun-tahun sebelumnya seperti aku ini. Ku pakai uang THR-ku untuk membelinya, harganya masih kurang dari 500.000 untuk durasi satu tahun. Bukan bermaksud promosi atau apa, dengan penuh hati bimbel online itu juga yang menjadi salah satu andil terbesar dalam berhasilnya aku di tahun ini. 

Oke berlanjut, akupun mulai belajar lagi, teman-temanku sudah memulai kuliah. Rasanya memang sakit, tapi harus aku lalui dengan penuh syukur. Aku ingat sebuah kata ‘siapa yang bersyukur, maka akan ditambahkan nikmatnya’. Temanku ada yang diterima di negeri, swasta, bahkan ada yang langsung kerja. Sebenarnya aku pun saat itu selagi mempersiapkan belajar, aku mencuri-curi informasi tentang lowongan pekerjaan. Tapi alhasil aku belum mendapatkannya. Meskipun aku telah ditinggal teman-teman dengan perkuliahan dan pekerjaannya, aku mencoba sabar dan bangkit. 

Aku mulai tumbuhkan kembali semangatku untuk belajar materi SBMPTN untuk tahun depan (2018) . Karena aku adalah anak IPA, aku mengambil paket SAINTEK sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Aku memulainya dengan menonton video motivasi belajar, kesalahan metode belajar, tips sukses belajar dengan baik, dll. Setelah itu aku melanjutkannya ke materi yang sesungguhnya. Dimulai dari bagian TPA (Tes Potensi Akademik) yang menitik-beratkan logika nalar. Setelah TPA selesai dengan soal-soalnya, aku lanjut di bagian Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dilanjut bagian TKD (Tes Kemampuan Dasar) mulai dari Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi. Aku lalui itu semua dengan lancar meski hanya ada sedikit hambatan pada jaringan internet karena aku belajar online. Aku habiskan waktuku untuk belajar dari mulai pagi sampai larut malam di kamar menggunakan notebook, headset, dan tentunya alat belajar lainnya. 


Lanjut cerita halaman 1 2 


Akun media sosial saya :
Facebook : Erfrans Do 
Instagram : @erfransdo 

ErfransDo | Tak Mungkin Lulus SBMPTN di Tahun Kedua?

Yusufstudi.com - Assalamualaikum nama saya Erfransdo, saya berasal dari Sukabumi.

Saya disini akan bercerita bagaimana saya bisa lulus SBMPTN 2018 dengan berbagai usaha, doa, keoptimisan, dan juga rintangan. Jadi, monggo dibaca ya hehe. 

Cerita ini meneceritakan perjalananu bagaimana Lulus SBMPTN di Tahun Kedua 

Alhamdulillah... Alhamdulillah.... Alhamdulillah ya Allah...

Mungkin kata itu yang terus aku ucapkan karena kemurahan hati-Nya padaku hari ini. Dia Sang Maha Kuasa atas segalanya, Allah swt. Allah telah membuatku, keluargaku, dan sahabat-sahabatku bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini kecuali melihat kedua orangtuaku yang sangat bahagia mendengar kabar baik dari anaknya. Alhamdulillah hari ini aku berhasil lulus SBMPTN di salah satu Universitas negeri di Bandung, Universitas Padjajaran. Sempat gagal di tahun pertama (alias tahun kemarin), akhirnya aku bisa merasakan balasan indahnya di tahun kedua ini. Masya Allah, meskipun aku tahu bahwa ini baru awal mula perjuanganku untuk menuju ke gerbang kesuksesan dan aku berharap, aku bisa melewati masa-masaku sebagai mahasiswa nantinya, Insya Allah. 

Lika-liku atau perjuanganku yang penuh ‘batu kerikil’ untuk bisa lulus tes SBMPTN 2018 ini. Bagi kalian yang ingin membaca kisahku, check this out ! 



Berawal dari tahun 2017, tepatnya di bulan Februari. Sebagai siswa SMA yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, aku pun ikut mendaftar SNMPTN karena alhamdulillah aku masuk kuota. Kebetulan, aku masuk di 10 besar siswa dengan nilai rata-rata yang cukup baik lah. Selain SNMPTN, aku pun ikut mendaftar di SPAN-PTKIN untuk cadangan bila-bila aku tak lulus SNMPTN. Tapi aku sangat berharap sekali bisa lulus SNMPTN, dan saat itu aku belum tahu-menahu tentang SBMPTN. Saat pendaftaran SNMPTN 2017, aku memilih Unpad dan UPI. Sementara untuk SPAN-PTKIN aku memilih UIN SGD Bandung dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Saat hari pengumuman SNMPTN di bulan April, aku dan teman sekelasku bermain di rumah salah satu dari kami untuk syukuran ulang tahunnya. Pengumumannya sekitar jam 14.00. Aku baru membukanya sekitar jam 14.30 , dan hasilnya adalah layar merah tanda aku tidak lulus. Disitu aku kecewa, hatiku patah, rasanya ingin marah tapi marah kepada siapa. Tapi aku ingat suatu kata, ‘setiap orang itu punya rezekinya masing-masing’, dan aku rasa mungkin di SNMPTN bukanlah rezekiku. 

Oke hal itu tak jadi halangan buatku. Setelah pengumuman kegagalan itu, aku pun langsung mendaftarkan diri di SBMPTN. Aku memilih Unpad di pilihan pertama dan kedua, sementara IPB untuk pilihan ketiga. Masih ada waktu kurang lebih dua minggu untukku mempersiapkan SBMPTN. Ketika aku memulai mengerjakan soal-soal dari buku latihan SBMPTN yang aku beli dari guru BK-ku, aku merasa pusing dan tak menyangka soal-soalnya begitu sulit. Aku pun belajar sebisanya. Disela-sela mempersiapkan SBMPTN, hari pengumuman SPAN-PTKIN pun tiba. Saat itu aku sedang ada di dapur dan langsung membuka website pengumumannya. 

Lagi-lagi, kata ‘maaf’ menyerangku kembali. Rasanya cukup kecewa tapi tidak se-kecewa saat kegagalanku di SNMPTN. 

Aku pun terus mengerjakan soal-soal latihan SBMPTN meski dua hari aku harus menginap di suatu tempat bersama teman sekelasku untuk acara perpisahan. Hari ke hari akhirnya sampai di H-1. Karena lokasi rumahku jauh dari tempat tes, aku pun menginap di rumah teman sekelasku yang juga mengikuti SBMPTN. Aku ingat saat itu aku baru tertidur sekitar jam 12 malam dan kembali bangun jam 2 dini hari. Jam 2.30 dini hari aku dan teman-teman pun berangkat dan serahkan hasilnya pada Allah. 

Singkat cerita, kami pun selesai bertarung dengan soal-soal super sulit. Apa aku bisa mengerjakannya? Jangan ditanya, aku bisa, tapi hanya sekitar 25% wkwkwk. Untuk melepas rasa penat, kami pun berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Satu bulan kemudian, pengumuman pun tiba. Saat itu sedang bulan puasa, dan aku berharap ada keberkahan dari bulan puasa itu. 

Aku membuka pengumuman itu sebelum adzan Maghrib- di dapur. Untuk yang ke-sekian kalinya aku ‘ditampar’ oleh kata ‘maaf’ yang menyakitkan itu. Masih mending kata ‘maaf’ karena ditolak wanita, tapi kata ‘maaf’ yang satu ini sungguh membuat hati ini hancur berkeping-keping (haha lebay dikit gapapa kali ya). Tapi sejujurnya sebelum pengumuman itu tiba, aku sudah bicara dengan ibuku perihal jika pil-pahit menimpaku di pengumuman SBMPTN (mungkin kalian bisa baca di artikel ini). 

 Hari-hari pun berlalu. Aku lalui dengan penuh syukur dan harap. Aku percaya bahwa Allah akan menggantikannya dengan hal yang jauh lebih baik. Aku percaya rencana-Nya akan selalu indah pada waktunya. Mungkin Dia ingin melihatku lebih berjuang lagi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. 

Ketika hari-hari Lebaran telah berlalu, aku pun meminta izin kepada orangtuaku untuk mengambil gapyear , dan alhamdulillah mereka mendukung penuh keputusan aku. Hari itu pula tepat tanggal 6 Juli yang juga merupakan tanggal lahirku, aku meluncur ke indoma**t untuk membeli paket belajar dari sebuah bimbel online yang sudah banyak menelurkan para ‘pemenang’ yang gagal di tahun-tahun sebelumnya seperti aku ini. Ku pakai uang THR-ku untuk membelinya, harganya masih kurang dari 500.000 untuk durasi satu tahun. Bukan bermaksud promosi atau apa, dengan penuh hati bimbel online itu juga yang menjadi salah satu andil terbesar dalam berhasilnya aku di tahun ini. 

Oke berlanjut, akupun mulai belajar lagi, teman-temanku sudah memulai kuliah. Rasanya memang sakit, tapi harus aku lalui dengan penuh syukur. Aku ingat sebuah kata ‘siapa yang bersyukur, maka akan ditambahkan nikmatnya’. Temanku ada yang diterima di negeri, swasta, bahkan ada yang langsung kerja. Sebenarnya aku pun saat itu selagi mempersiapkan belajar, aku mencuri-curi informasi tentang lowongan pekerjaan. Tapi alhasil aku belum mendapatkannya. Meskipun aku telah ditinggal teman-teman dengan perkuliahan dan pekerjaannya, aku mencoba sabar dan bangkit. 

Aku mulai tumbuhkan kembali semangatku untuk belajar materi SBMPTN untuk tahun depan (2018) . Karena aku adalah anak IPA, aku mengambil paket SAINTEK sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Aku memulainya dengan menonton video motivasi belajar, kesalahan metode belajar, tips sukses belajar dengan baik, dll. Setelah itu aku melanjutkannya ke materi yang sesungguhnya. Dimulai dari bagian TPA (Tes Potensi Akademik) yang menitik-beratkan logika nalar. Setelah TPA selesai dengan soal-soalnya, aku lanjut di bagian Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dilanjut bagian TKD (Tes Kemampuan Dasar) mulai dari Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi. Aku lalui itu semua dengan lancar meski hanya ada sedikit hambatan pada jaringan internet karena aku belajar online. Aku habiskan waktuku untuk belajar dari mulai pagi sampai larut malam di kamar menggunakan notebook, headset, dan tentunya alat belajar lainnya. 


Lanjut cerita halaman 1 2 


Akun media sosial saya :
Facebook : Erfrans Do 
Instagram : @erfransdo 

No comments